Manusia Dan Agama (1)

a. Agama Sebagai Kebutuhan Fitrah
Allah berfirman dalam AlQuran surat Ar Rum (30) ayat 30 :
“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.”

Fitrah menurut ayat diatas adalah dasar penciptaan manusia, sifat pembawaan manusia sejak ia diciptakan dan merupakan kebutuhan hakiki manusia. Kebutuhan manusia di bagi dua, yaitu kebutuhan fitrah dan kebutuhan “kebiasaan”. Kebutuhan fitrah adalah kebutuhan hakiki setiap manusia, seperti kebutuhan berkeluarga, rasa ingin memiliki, keingintahuan akan sesuatu dan keinginan mencintai dan dicintai. Kebutuhan-kebutuhan ini tidak bisa dilepas dari manusia, meskipun generasi berikutnya dididik khusus agar dalam hidup mereka tidak mengenal kebutuhan-kebutuhan tersebut. Adapun kebutuhan kebiasaan adalah kebutuhan yang tidak melekat dengan penciptaan manusia, tetapi akan menjadi kebutuhan manakala dilakukan berulang-ulang, seperti ken\butuhan akan minuman keras atau ganja, perlahan-lahan kebutuhan tersebut akan menjadi kebutuhan alamiah, akan tetapi dengan usaha intensif kebutuhan-kebutuhan itu dapat ditinggalkan, bahkan dapat mendidik generasi berikutnya untuk tidak pernah mengenal sedikitpun kebutuhan-kebutuhan tersebut. 

Contoh kasus di Negara komunis. Pemerintah komunis berusaha untuk melaksanakan sosialisme sebagai tonggak persatuan Negara dan pemusnahan tatanan kekeluargaaan yang bersifat pribadi agar masing-masing pribadi warganya seperti sekrup-sekrup kecil yang membangun suatu Negara tanpa memiliki kepribadian, kecuali kepribadian Negara itu sendiri. Tetapi semua usaha itu gagal total, sebab dorongan untuk membentuk keluarga merupakan dorongan fitrah. Jauh dilubuk jiwanya, setiap manusia menghendaki pendamping hidupnya dan sangat anak sebagai wujud kelanjutan dirinya di bumi ini. 

Suatu norma sosial akan tetap lestari jika ia merupakan satu-satunya kebutuhan fitrahatau satu-satunya sarana untuk mencapai kebutuhan-kebutuhan fitrah tersebut. Norma sosial itulah agama. 

Islam sebagai agama adalah kebutuhan fitrah yang akan melekat terus dalam kehidupan manusia. Fitrah manusia yang membutuhkan agama, digambarkan Allah dengan suatu perjanjian antara Allah dengan manusia jauh sebelum manusia dialam rahim, atau tepatnya di alam ruh :

“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuban kami), kami menjadi saksi". (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengata- kan: "Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)” (7:172)

Perjanjian inilah yang dimaksud keterikatan manusia kepada agama yang diungkapkan oleh para tokoh berikut ini :

1. Alexis Carell : “Pada batin manusia ada seberkas sinar yang menunjukan kepada manusia, kesalahan yang terkadang dilakukannya. Sinar inilah yang mencegah kemunkaran. Bahkan manusia terkadang merasakan kebesaran dan keagungan Tuhan.” 
2. William James : “ Perbuatan manusia lebih terikat kepada naluri agamanya dibanding kepada perhitungan materialnya. Kita melihat manusia memiliki sifat ketulusan, keikhlasan, kerinduan, keramahan, kecintaan dan pengorbanan, semua itu adalah dorongan keagamaan yang tidak terlepas dari sifat semua manusia.”

Jadi terlihat sekali bahwa orang yang mengingkari agama, Tuhan serta seluruh panggilan fitrahnya, pada hakekatnya ia telah mentelantarkan dirinya dan melupakannya, itulah awal kehancuran orang yang telah mengingkari kebutuhan akan agamanya.

“Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik.” (59:19)

Para ilmuan barat bukan hanya melupakan Tuhan/Agama, malah mereka hendak mengganti peranan Tuhan, sebab menurut mereka Tuhan telah mati! Menurut mereka tidak ada yang tersembunyi dan mustahil dihadapan ilmu pengetahuan. Salah seorang ilmuan barat yang terkenal(kekafirannya). Adalah Emond leech yang mengarang buku berjudul “Kami ahli pengetahuan harus mengambil peranan Tuhan”.

Menurut Emond Leech, jenis manusia yang akan lahir keduania itu harus ditentukan sesuai dengan perkembangan zaman. Zaman sekarang hanya membutuhkan orang yang bertubuh kuat, berpikiran, cerdas, bergerak cepat danberwajah cakap. Orang yang bodoh dan lugu, tidak usah dilahirkan lagi. Menurut mereka banyak anak yang lahir bertubuh cacat dan idiot, menunjukan Tuhan sudah tidak bisa memenuhi kebutuhan akan manusia yang berkualitas yang iperlukan zaman modern ini. 

Untuk itu nutfah yang mengandung gen manusia, harus direkayasa hingga diperoleh bibit-bibit unggul manusia ciptaan sains, bukan ciptaan Tuhan!.

Salah seorang tokoh aliran ini adalah Prof. Paul Ehranfes, guru besar dalam ilmu fisika. Ia mencoba mendidik anaknya hanya dengan ilmu exact. Ia bercita-cita kelak akan muncul anaknya sebagai anak jenius pertama ciptaan ilmu pengetahuan tetapi apa yang terjadi? Subhanallah ! Ternyata anak itu bukan menjadi seorang yang berakal brilian, malah otaknya menjadi tidak sempurna dan sangat idiot!.

Sang professor kecewa dan akhirnya bunuh diri ! sebelum bunuh diri ia sempat membuat surat yang ditujukan kepada kawannya, Prof. Kohnstamm, bahwa agama itu perlu, dan menyesal ia telah melukai Tuhan, kemudian ia mendoakan orang yang masih hidup, “Mudah-mudahan Allah akan menolong kam, yaitu Allah yang amat kulukai sekarang ini.” 

“Allah menyediakan bagi mereka azab yang keras, maka bertakwalah kepada Allah hai orang-orang yang mempunyai akal; (yaitu) orang-orang yang beriman. Sesungguhnya Allah telah menurunkan peringatan kepadamu,” (ath thalaq;65:10)

“Maka Kami binasakan mereka maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan itu.”(43:25)

 

Bersambung ke Manusia dan Agama (2)

 





Posted in . 0 Comment »


0 Response to Manusia Dan Agama (1)

Leave a Reply