Manusia dan Agama (2)

b. Tujuan Hidup Manusia



Pada saat Allah telah menciptakan kita, Ia tidak pernah meminta pendapat kita, apa perlu penciptaan itu dilanjutkan atau tidak. Dia maha berkehendak, artinya Allah telah memiliki tujuan yangmutlaq berkenaan dengan penciptaan manusia. Jadi, sekiranya kita yang dilahirkan mencari dan menciptakan tujuan hidup sendiri, berarti telah menghianati penciptaan kita.



Tujuan hidup yang harus dicapai manusia adalah tujuan yang telah ditetapkan Allah pada waktu menciptakan kita. Adakah manusiayang usul agar dirinya diciptakan Allah karena ia memiliki cita-cita yang hendak dicapai didunia ini ? Tidak pernah ada ! Tujuan hidup manusia atau Wijhah al-hayat adalah memeluk Dien yang penuh dengan keikhlasan yang hanif serta menyerahkan seluruh tujuannya itu kepada tujuan Allah menciptakan manusia.



“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.”(30:30)



“Dan siapakah yang lebih baik agamanya dari pada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang diapun mengerjakan kebaikan, dan ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus ? Dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayanganNya.”(4:125)




Seluruh hidup manusia yang menyerahkan seluruh kehendaknya kepada kehendak Allah itulah yang disebut Kehidupan mencari ridha Allah. Jadi tujuan mencari ridha Allah pada hakeketnya adalah hidup menyesuaikan diri dengan kehendak dan tujuan Allah menciptakan manusia.



Untuk melihat apa yang harus kita lakukan agar ridha Allah dapat kita peroleh, marilah kita kaji beberapa ayat berikut ini :

 

i. AlQuran Surat 58 ayat 22

“Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka. Meraka itulah orang-orang yang telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan [1463] yang datang daripada-Nya. Dan dimasukan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka, dan merekapun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya hizbullah itu adalah golongan yang beruntung.”



Menurut ayat ini ciri-ciri dari orang yang diridhai Allah itu adalah yang menjadi golongan Allah (Hizbullah) yang tidak pernah menaruh belas kasihan dan tidak pernah berkasih saying dengan orang yang menentang Allah dan Rosul-Nya, meskipun ia bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka.



Jadi kalau tujuan hidup kita mencari keridhaan Allah, maka sikap tegas dan tidak pernah berkompromi dengan orang penentang Allah dan Rosul-Nya meskipun orang yang dekat dengan kita, harus dimiliki.



Lebih tegas Allah menyatakan dalam Al Quran Al maidah (5) ayat 78-80 bahwa bani isroil dilaknat Allah karena tolong-menolong dengan orang kafir/musrik.

   

ii. Al Quran Surat At Taubah (9) : 100

“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama- lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.”



Ayat ini menegaskan bahwa kelompok yang diridhai Allah itu hanyamereka para muhajirin dan Anshor dan generasi berikutnya yang menempatkan diri baik dikelompok Anshor atau muhajirin. Kelompok berikutnya itu termasuk generasi hingga akhir zaman.



Jadi sekiranya benar bahwa tujuan hidup kita adalah mencari ridha Allah maka hanyaada 2 pilihan yang harus diambil :

Menjadi orang yang hijrah dari kebatilan menuju Al Islam (Muhajirin), atau menjadi penolong an pembela Islam (Ansor).



iii. Al Quran Surat Al Maidah(5) : 3

‘Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah [394], daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang terpukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya [395], dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala. Dan (diharamkan juga) mengundi nasib dengan anak panah [396], (mengundi nasib dengan anak panah itu) adalah kefasikan. Pada hari ini [397] orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni’mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. Maka barang siapa terpaksa [398] karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.Ayat ini dengan tegas menyatakan bahwa Allah ridho Islam yang telah tegak, sempurna, dhohir dan kaffar dijadikan oleh kita sebagai Dien (system hidup).”



Jadi tujuan hidup tidak bisa dipisahkan dari usaha dan perjuangan menegakan dan mendhohirkan Islam hingga terbentuklah masyarakat Islamyang Kaffah, sebab disitulah keridhaan Allah. Sejauh mana kita diridhai Allah adalah sebesar apaperanan kita dalam turut serta menegakkan Islam di bumi ini.


 


Bersambung ke Manusia dan Agama (3)



 



Manusia dan Agama (1)

a. Agama Sebagai Kebutuhan Fitrah

Allah berfirman dalam AlQuran surat Ar Rum (30) ayat 30 :

“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.”



Fitrah menurut ayat diatas adalah dasar penciptaan manusia, sifat pembawaan manusia sejak ia diciptakan dan merupakan kebutuhan hakiki manusia. Kebutuhan manusia di bagi dua, yaitu kebutuhan fitrah dan kebutuhan “kebiasaan”. Kebutuhan fitrah adalah kebutuhan hakiki setiap manusia, seperti kebutuhan berkeluarga, rasa ingin memiliki, keingintahuan akan sesuatu dan keinginan mencintai dan dicintai. Kebutuhan-kebutuhan ini tidak bisa dilepas dari manusia, meskipun generasi berikutnya dididik khusus agar dalam hidup mereka tidak mengenal kebutuhan-kebutuhan tersebut. Adapun kebutuhan kebiasaan adalah kebutuhan yang tidak melekat dengan penciptaan manusia, tetapi akan menjadi kebutuhan manakala dilakukan berulang-ulang, seperti ken\butuhan akan minuman keras atau ganja, perlahan-lahan kebutuhan tersebut akan menjadi kebutuhan alamiah, akan tetapi dengan usaha intensif kebutuhan-kebutuhan itu dapat ditinggalkan, bahkan dapat mendidik generasi berikutnya untuk tidak pernah mengenal sedikitpun kebutuhan-kebutuhan tersebut. 



Contoh kasus di Negara komunis. Pemerintah komunis berusaha untuk melaksanakan sosialisme sebagai tonggak persatuan Negara dan pemusnahan tatanan kekeluargaaan yang bersifat pribadi agar masing-masing pribadi warganya seperti sekrup-sekrup kecil yang membangun suatu Negara tanpa memiliki kepribadian, kecuali kepribadian Negara itu sendiri. Tetapi semua usaha itu gagal total, sebab dorongan untuk membentuk keluarga merupakan dorongan fitrah. Jauh dilubuk jiwanya, setiap manusia menghendaki pendamping hidupnya dan sangat anak sebagai wujud kelanjutan dirinya di bumi ini. 



Suatu norma sosial akan tetap lestari jika ia merupakan satu-satunya kebutuhan fitrahatau satu-satunya sarana untuk mencapai kebutuhan-kebutuhan fitrah tersebut. Norma sosial itulah agama. 



Islam sebagai agama adalah kebutuhan fitrah yang akan melekat terus dalam kehidupan manusia. Fitrah manusia yang membutuhkan agama, digambarkan Allah dengan suatu perjanjian antara Allah dengan manusia jauh sebelum manusia dialam rahim, atau tepatnya di alam ruh :



“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuban kami), kami menjadi saksi". (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengata- kan: "Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)” (7:172)



Perjanjian inilah yang dimaksud keterikatan manusia kepada agama yang diungkapkan oleh para tokoh berikut ini :



1. Alexis Carell : “Pada batin manusia ada seberkas sinar yang menunjukan kepada manusia, kesalahan yang terkadang dilakukannya. Sinar inilah yang mencegah kemunkaran. Bahkan manusia terkadang merasakan kebesaran dan keagungan Tuhan.” 

2. William James : “ Perbuatan manusia lebih terikat kepada naluri agamanya dibanding kepada perhitungan materialnya. Kita melihat manusia memiliki sifat ketulusan, keikhlasan, kerinduan, keramahan, kecintaan dan pengorbanan, semua itu adalah dorongan keagamaan yang tidak terlepas dari sifat semua manusia.”



Jadi terlihat sekali bahwa orang yang mengingkari agama, Tuhan serta seluruh panggilan fitrahnya, pada hakekatnya ia telah mentelantarkan dirinya dan melupakannya, itulah awal kehancuran orang yang telah mengingkari kebutuhan akan agamanya.



“Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik.” (59:19)



Para ilmuan barat bukan hanya melupakan Tuhan/Agama, malah mereka hendak mengganti peranan Tuhan, sebab menurut mereka Tuhan telah mati! Menurut mereka tidak ada yang tersembunyi dan mustahil dihadapan ilmu pengetahuan. Salah seorang ilmuan barat yang terkenal(kekafirannya). Adalah Emond leech yang mengarang buku berjudul “Kami ahli pengetahuan harus mengambil peranan Tuhan”.



Menurut Emond Leech, jenis manusia yang akan lahir keduania itu harus ditentukan sesuai dengan perkembangan zaman. Zaman sekarang hanya membutuhkan orang yang bertubuh kuat, berpikiran, cerdas, bergerak cepat danberwajah cakap. Orang yang bodoh dan lugu, tidak usah dilahirkan lagi. Menurut mereka banyak anak yang lahir bertubuh cacat dan idiot, menunjukan Tuhan sudah tidak bisa memenuhi kebutuhan akan manusia yang berkualitas yang iperlukan zaman modern ini. 



Untuk itu nutfah yang mengandung gen manusia, harus direkayasa hingga diperoleh bibit-bibit unggul manusia ciptaan sains, bukan ciptaan Tuhan!.



Salah seorang tokoh aliran ini adalah Prof. Paul Ehranfes, guru besar dalam ilmu fisika. Ia mencoba mendidik anaknya hanya dengan ilmu exact. Ia bercita-cita kelak akan muncul anaknya sebagai anak jenius pertama ciptaan ilmu pengetahuan tetapi apa yang terjadi? Subhanallah ! Ternyata anak itu bukan menjadi seorang yang berakal brilian, malah otaknya menjadi tidak sempurna dan sangat idiot!.



Sang professor kecewa dan akhirnya bunuh diri ! sebelum bunuh diri ia sempat membuat surat yang ditujukan kepada kawannya, Prof. Kohnstamm, bahwa agama itu perlu, dan menyesal ia telah melukai Tuhan, kemudian ia mendoakan orang yang masih hidup, “Mudah-mudahan Allah akan menolong kam, yaitu Allah yang amat kulukai sekarang ini.” 



“Allah menyediakan bagi mereka azab yang keras, maka bertakwalah kepada Allah hai orang-orang yang mempunyai akal; (yaitu) orang-orang yang beriman. Sesungguhnya Allah telah menurunkan peringatan kepadamu,” (ath thalaq;65:10)



“Maka Kami binasakan mereka maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan itu.”(43:25)


 


Bersambung ke Manusia dan Agama (2)